Okay, so it's been a roong roong time , aku akhirnya punya kesempatan lagi untuk melanjutkan kisah di hari-hari pertama ku menginjakkan kaki di Rusia, lebih tepatnya kota Samara. Mungkin banyak yang belum tau dimana kota Samara. Jadi, kota ini ada di selatan rusia, dan merupakan salah satu provinsi yang jarang turis tau, tapi ada banyak mahasiswa internasional yang berkuliah disini.
Baiklah, ini aku tunjukkin letak kotanya melalui map.
Mereka menelpon ku dan meminta ku untuk membawakan paspor mereka ke kantor polisi itu. Kenapa mereka menelpon ku, seorang wanita kecil ini. Ya, karena kebetulan saat itu aku lumayan cepat dalam menguasai bahasa rusia. Mungkin akan ada pertanyaan, kan ada kakak senior kami yang dari Indonesia juga, kenapa mereka ga nelpon mereka ya. Ya, itu karena mereka ketangkap polisi sore hari, senior kami yang sudah lama berkuliah di kota itu belum pulang dari kuliahnya.
Oiya, ada lagi nih ultimate story, yang nggak kalah hah hoh nya. Jadi ini kejadiannya mungkin sudah beberapa bulan, mungkin hampir 1 tahun semenjak aku tinggal di kota Samara. Suatu saat di musim panas, aku pergi ke sebuah perpustakaan kota sendirian rencananya memang mau explore kota juga. Aku pergi dari siang hari dan stay di perpustakaan sampai sore sebelum maghrib, karena musim panas, waktu maghrib tiba sangat lama. Setelah keluar dari perpustakaan dan menuju Garderobe (tempat penitipan jaket). Ada pasangan lansia membawa kue ulang tahun, dan tiba-tiba bertanya darimana aku berasal, dan aku jawab dari Indonesia, setelah itu kita berbincang kecil. Hingga akhirnya, kedua lansia itu memberikan ku sekotak kue ulang tahun yang mereka punya, bener-bener kue tart yang masih utuh. Aku senang sekali sambil membawanya pulang.
Di jalan menuju asrama, aku melihat seorang wanita babak belur, mukanya lebam-lebam bonyok, bibirnya ada darah dan juga bengkak. Aku lihat dia seperti bingung tidak ada yang menolong, jadi ku dekati dia dan ku tanya apa yang dia butuhkan. Ternyata wanita itu ingin naik bis, tapi kartu dia tidak ada balance lagi, dan dia tidak punya cukup uang untuk mengisi kartu atau membeli karcis. Karena iba, aku mencoba untuk mengecek dompet ku, dan ternyata, ya nasib kita sama. Saya juga tidak punya uang saat itu.
Kemudian, aku berinisiatif untuk mengambil cash di atm terdekat, dia mau mengikuti ku, dan aku merasa oke saja. Selang beberapa menit kita berjalan ke atm, ada seorang ibu dengan anak perempuan kecilnya menarik tangan ku dan melakukan gestur untuk pergi meninggalkan ibu-ibu yang babak belur itu. Aku menjelaskan padanya kalau itu tidak masalah, wanita itu butuh bantuan ucapku. Tapi sepertinya ibu itu tahu sesuatu dan dia menarik tangan ku dan membuat gestur untuk pergi meninggalkan ibu-ibu itu. Saat itu aku menurut saja dan menangis di jalan pulang, karena membayangkan wajah ibu-ibu di jalan tersebut.
Setibanya di asrama, aku ceritakan ke teman-teman asrama ku, disitu mahasiswa indonesia sedang mengadakan makan bersama, dan mereka melihat ku membawa kue tart yang tadi. Dan aku ceritakan ke mereka bahwa aku bertemu ibu-ibu kasihan di jalan, tapi aku tidak bisa membantu karena dilarang oleh ibu-ibu rusia lainnya. Seketika itu teman-teman aku menyadarkan ku kalau hal itu adalah hal bodoh, coba pikirkan, kenapa gaada orang lain yang bantu padahal dia ada di tempat ramai, dan yang menolongku saat itu ibu-ibu dengan anak perempuan. Langsung duarrr...duarr.. aku tersadar bahwa itu ada benarnya juga, teman-teman ku merasakan apakah aku di hipnotis jadi ga sadar dan iya-iya aja untuk pergi ke atm. Jujur saja, aku rasa aku sadar-sadar saja, cuma memang saat itu merasa sangat iba terhadap ibu yang babak belur tersebut. Tapi gatau deh Allahu a'lam bissawwab, mungkin pelajaran hari ini adalah untuk tidak terlalu gegabah ya, dan jangan mudah percaya orang random dimanapun!!
Sedari tadi aku ngomongin asrama kan, jadi ini tampak depan asrama aku di Samara di Безимянный переулок - 9. Foto ini diambil di tahun 2016.



0 comments:
Post a Comment