Thursday, August 27, 2026

мой Первый День В России (My First Days In Russia) - Kisah Anomali (Part 2)

 Okay, so it's been a roong roong time , aku akhirnya punya kesempatan lagi untuk melanjutkan kisah di hari-hari pertama ku menginjakkan kaki di Rusia, lebih tepatnya kota Samara. Mungkin banyak yang belum tau dimana kota Samara. Jadi, kota ini ada di selatan rusia, dan merupakan salah satu provinsi yang jarang turis tau, tapi ada banyak mahasiswa internasional yang berkuliah disini.

Baiklah, ini aku tunjukkin letak kotanya melalui map.



Dikarenakan jarang sekali warga lokal melihat orang asing, jadi kadang kita sebagai mahasiswa Indonesia sering banget dimintai foto 😭. Biasanya kalau di indonesia kan seringnya orang Indonesia minta foto ke bule-bule, lah disini kita malah dimintain foto bareng mereka wkwkwk. Apalagi kalau pergi ke pasar, beuuh pasti akan sering dikira orang Amerika lah, orang Syria lah, pokoknya mereka asbun banget tapi excited .

Hingga suatu hari aku mendapatkan pengalaman yang SUPER WOW!!. Pengalaman ini adalah wejangan untuk kamu yang mau pindah berkuliah atau kerja di Rusia, terutama kalau kamu akan ditempatkan di kota-kota kecil. Kisah ini terjadi di sekitar tahun 2015 saat baru beberapa bulan mahasiswa Indonesia sampai di kota ini untuk belajar bahasa Rusia. (Disclaimer: untuk setiap mahasiswa asing, wajib mengemban kelas persiapan atau Подфак - Podfak selama 1 tahun sebelum memulai berkuliah) 

Pada hari itu, ada kedua teman aku sebut saja namanya Erik dan Yudha, mereka baru saja pulang entah dari pasar atau membeli Shawerma. Tiba-tiba mereka menelpon ku karena ada keadaan genting, so, aku langsung dong pergi untuk menemui mereka. Ternyata, mereka ditahan polisi, jadi di setiap metro/subway di rusia itu selalu ada pos-pos polisi. Pos polisi ya, bukan security, dari mana aku tahu, ya karena seragam yang mereka pakai.

Jadi, kedua teman aku ini ditahan polisi karena tidak membawa paspor. Oiya, aku inget, mereka keluar beli shawerma yang jaraknya cuma 5 menit dari asrama, jadi mereka ga bawa paspor. Setelah itu apesnya ketemu polisi di metro dan ditanyai paspor. Eng..ing..engg, ya jelaslah mereka ga baawa, siapa juga yang keluar beli jajan aja bawa paspor wkkwk.

Mereka menelpon ku dan meminta ku untuk membawakan paspor mereka ke kantor polisi itu. Kenapa mereka menelpon ku, seorang wanita kecil ini. Ya, karena kebetulan saat itu aku lumayan cepat dalam menguasai bahasa rusia. Mungkin akan ada pertanyaan, kan ada kakak senior kami yang dari Indonesia juga, kenapa mereka ga nelpon mereka ya. Ya, itu karena mereka ketangkap polisi sore hari, senior kami yang sudah lama berkuliah di kota itu belum pulang dari kuliahnya.

Oke, long story short, jadi pergilah aku membawakan paspor mereka ke kantor polisi. Aku mencoba bernegosiasi ke polisi itu dan bilang kalau kami ini cuma pelajar dan baru banget datang. Dan polisi itu akhirnya melepaskan kedua teman ku. TAPIII.. TAPIII.... cerobohnya, aku lupa bawa paspor ku dan polisi itu bertanya.

Polisi: А где твой паспорт? (Dan mana paspor kamu?)
Me: *terdiam sejenak* В общежитие, я думала, что вам мой паспорт не нужно. (Di asrama, saya kira bapa ga perlu paspor saya)
Polisi: Ааа нельзя, ты здесь остаёшься или 5000руб платишь. (Ah gaboleh, kamu stay disini atau bayar 5ribu rubel. Saat itu 5000 rubel setara 1,2jt)

Akhirnya, setelah banyak negosiasi aku disuruh stay di kantor polisi dan kedua teman yang aku bantu pulang. Aku meminta mereka untuk memanggil senior ku yang sudah lama kuliah disitu untuk bail me out 😭. Si polisi memasukkan aku ke dalam sebuah sel kecil, bener-bener sel dong, yang ada jerujinya. Ya Allah, ngakak kalau ingat ini, pas disitu aku mikir, aku nih ngapain siih.

Dan tau nggak, polisi ini genit banget, gatau deh kayaknya dia entah aneh atau agak sedikit mabok, soalnya tiba-tiba ada cewek gitu datang kesitu dengan baju kurang bahan. Saat itu aku posthink aja mungkin itu pacarnya. Tapi, sampai hari ini hati kecilku masih berbisik, kayaknya itu prostitut deh wkwk. Jadi, sembari aku menunggu temanku dan seniorku datang, aku duduk di dalam sel kecil itu sambil mendengarkan dua orang ini memadu kasih. Entahlah apa yang mereka berdua lakukan, kalau diinget-inget agak geli juga suara mereka.

Hingga setelah beberapa menit, seniorku thanks to Kak ika dan dua teman ku yang laki-laki tadi datang kembali menjemputku. Kak ika mencoba untuk berbicara dengan si polisi, dan akhirnya si polisi mau melepaskan ku setelah membuktikan bahwa aku adalah mahasiswa juga. Tapi, anehnya masih minta duit, dari yang sebelumnya 5000 rubel menjadi 2000 atau 1000 rubel aku tidak ingat pastinya, untuk kurs saat itu mungkin ada di kisaran 200-400ribu rupiah. Aneh banget lah, sudah dibilang juga kita mahasiswa duit ga gablek masih dipalakin sama tuh polisi.

Berikut glimpse of  subway/metronya, dimana ada kantor polisi kecil di dekat pintu masuk. Diambil dari hape samsung bobrok yang tipis itu lupa namanya, sorry sorry maaf ya fotonya begitu 🤣





Oiya, ada lagi nih ultimate story, yang nggak kalah hah hoh nya. Jadi ini kejadiannya mungkin sudah beberapa bulan, mungkin hampir 1 tahun semenjak aku tinggal di kota Samara. Suatu saat di musim panas, aku pergi ke sebuah perpustakaan kota sendirian rencananya memang mau explore kota juga. Aku pergi dari siang hari dan stay di perpustakaan sampai sore sebelum maghrib, karena musim panas, waktu maghrib tiba sangat lama. Setelah keluar dari perpustakaan dan menuju Garderobe (tempat penitipan jaket). Ada pasangan lansia membawa kue ulang tahun, dan tiba-tiba bertanya darimana aku berasal, dan aku jawab dari Indonesia, setelah itu kita berbincang kecil. Hingga akhirnya, kedua lansia itu memberikan ku sekotak kue ulang tahun yang mereka punya, bener-bener kue tart yang masih utuh. Aku senang sekali sambil membawanya pulang.

Di jalan menuju asrama, aku melihat seorang wanita babak belur, mukanya lebam-lebam bonyok, bibirnya ada darah dan juga bengkak. Aku lihat dia seperti bingung tidak ada yang menolong, jadi ku dekati dia dan ku tanya apa yang dia butuhkan. Ternyata wanita itu ingin naik bis, tapi kartu dia tidak ada balance lagi, dan dia tidak punya cukup uang untuk mengisi kartu atau membeli karcis. Karena iba, aku mencoba untuk mengecek dompet ku, dan ternyata, ya nasib kita sama. Saya juga tidak punya uang saat itu.

Kemudian, aku berinisiatif untuk mengambil cash di atm terdekat, dia mau mengikuti ku, dan aku merasa oke saja. Selang beberapa menit kita berjalan ke atm, ada seorang ibu dengan anak perempuan kecilnya menarik tangan ku dan melakukan gestur untuk pergi meninggalkan ibu-ibu yang babak belur itu. Aku menjelaskan padanya kalau itu tidak masalah, wanita itu butuh bantuan ucapku. Tapi sepertinya ibu itu tahu sesuatu dan dia menarik tangan ku dan membuat gestur untuk pergi meninggalkan ibu-ibu itu. Saat itu aku menurut saja dan menangis di jalan pulang, karena membayangkan wajah ibu-ibu di jalan tersebut.

Setibanya di asrama, aku ceritakan ke teman-teman asrama ku, disitu mahasiswa indonesia sedang mengadakan makan bersama, dan mereka melihat ku membawa kue tart yang tadi. Dan aku ceritakan ke mereka bahwa aku bertemu ibu-ibu kasihan di jalan, tapi aku tidak bisa membantu karena dilarang oleh ibu-ibu rusia lainnya. Seketika itu teman-teman aku menyadarkan ku kalau hal itu adalah hal bodoh, coba pikirkan, kenapa gaada orang lain yang bantu padahal dia ada di tempat ramai, dan yang menolongku saat itu ibu-ibu dengan anak perempuan. Langsung duarrr...duarr.. aku tersadar bahwa itu ada benarnya juga, teman-teman ku merasakan apakah aku di hipnotis jadi ga sadar dan iya-iya aja untuk pergi ke atm. Jujur saja, aku rasa aku sadar-sadar saja, cuma memang saat itu merasa sangat iba terhadap ibu yang babak belur tersebut. Tapi gatau deh Allahu a'lam bissawwab, mungkin pelajaran hari ini adalah untuk tidak terlalu gegabah ya, dan jangan mudah percaya orang random dimanapun!!

Sedari tadi aku ngomongin asrama kan, jadi ini tampak depan asrama aku di Samara di Безимянный переулок - 9. Foto ini diambil di tahun 2016.



0 comments:

Post a Comment